Rabu, 03 Juli 2013

TUGAS PENGANTAR AKUNTANSI BAB 3



BAB 3
PERSEDIAAN
Persediaan barang dagangan adalah elemen yang sangat penting dalam penentuan harga pokok penjualan pada perusahaan dagang eceran,maupun perusahaan dagang partai besar. Dalam BAB ini akan dijelaskan prosedur-prosedur penentuan jumlah persediaan dan metode penentuan harga perolehan persediaan yang ada digudang pada tanggal neraca. Selain itu juga akan dibahas pemakaian sistem persediaan perpetual, penentuan persediaan dengan metode taksiran, dan pengaruh kesalahan dalam persediaan terhadap keuangan.
·         ARTI PENTING PERSEDIAAN
Persediaan berpengaruh terhadap neraca maupun lapoan laba-rugi. Dalam neraca sebuah perusahaan dagang atau perusahaan manufaktur, persediaan sering kali merupakan bagian yang sangat besar dari keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan.
Manajemen persediaan yang efektif sering kali merupakan kunci keberhasilan operasi perusahaan. Manajemen berusaha untuk mempertahankan kuantitas dan jenis persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan konsumen, tapi disisi lain manajemen juga harus menghindarkan biaya penyimpanan persediaan yang terlalu tinggi sebagai akibat penentuan persediaan yang tinggi.
·         KLASIFIKASI PERSEDIAAN
Dalam sebuah perusahaan dagang, persediaan terdiri dari berbagai macam dan jenis. Persediaan memiliki 2 karakteristik pnting, yakni:
1.      Persediaan tersebut merupakan milik perusahaan
2.      Persediaan tersebut siap dijual kepada para konsumen
Oleh karena itu dalam perusahaan dagang hanya dikenal satu klasifikasi persediaan yang disebut persediaan barang dagangan.persediaan ini meliputi segala macam barang dagangan yang dimiliki perusahaan.
·         PENENTUAN KUANTITAS PERSEDIAAN
Tujuan penentuan kuantitas persediaan ialah untuk menetapkan jumlah unit (satuan) persediaan yang dimiliki persediaan perusahaan pada tanggal neraca. Pekerjaan ini meliputi 2 hal, yaitu:
1.      Melakukan perhitungan fisik atas barang yang ada digudang.
2.      Menentukan pemilikan atas barang dalam perjalanan.
ü  Perhitungan fisik persediaan
Perhitungan fisik persediaan meliputi pekerjaan menghitung, menimbang, atau mengukur tiap-tiap jenis barang yang berada dalam persediaan.
ü  Barang dalam perjalanan
Barang disebut berada dalam perjalanan apabila barang tersebut pada tanggal neraca berada ditangan pihak pengangkut,seperti perusahaan kereta api, perusahaan angkutan dengan truk, atau angkutan udara.
·         HARGA PEROLEHAN PERSEDIAAN
Harga perolehan meliputi semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapat barang dan menempatkannya dalam kondisi yang siap untuk dijual.
METODA PENETAPAN HARGA PEROLEHAN ATAS DASAR ALIRAN FISIK SESENGGUHNYA
Penetapan harga perolehan persediaan adalah pekerjaan yang rumit karena barang yang berada dalam persediaan mungkin berasal dari pembelian yang berbeda dengan harga perolehan yang berbeda pula.
Metode identifikasi khusus yang berarti mengikuti aliran fisik barang yang sesungguhnya terjadi.dalam metode ini tiap jenis persediaan diberi tanda, digantungi kartu,atau diberi kode menurut harga perolehannya.
Metode identifikasi khusus biasanya diterapkan pada perusahaan yang menjual barang yang mahal harganya tetapi jumlah dan jenisnya terbatas, sehingga dapat diidentifikasi dengan jelas sejak saat barang dibeli hingga terjual kembali. Barang-barang semacam itu misalnya mobil, alat-alat musik, barang-barang elektronika, dan barang-barang antik.
METODA HARGA PEROLEHAN ATAS DASAR ALIRAN ANGGAPAN
Metode identifikasi khusus yang didasarkan pada aliran fisik sesungguhnya seperti diuraikan diatas sangat terbatas penerapannya. Pada perusahaan yang menjual barang dengan aneka ragam jenis dan banyak jumlahnya, penerapan metode ini tidak praktis. Oleh karena itu dalam akuntansi lazim digunakan metode penentuan harga perolehan yang didasarkan pada aliran anggapan (bukan aliran fisik yang sesungguhnya), yaitu :
1.      First in, first out (FIFO)
2.      Last in, first out (LIFO)
3.      Harga perolehan rata-rata
First in, first out (FIFO)
Metode FIFO menganggap bahwa barang yang lebih dahulu dibeli, akan dijual lebih dahulu. Dengan demikian harga perolehan barang yang lebih dulu dibeli, dianggap akan menjadi harga pokok penjualan lebih dulu juga.
Last in, first out (LIFO)
Metoda LIFO didasarkan pada anggapan bahwa barang yang dibeli lebih akhir akan dijual atau dikeluarkan lebih dahulu. Dengan demikian harga perolrhan barang yang dibeli lebih akhir akan dialokasikan lebih dahulu sebagai harga pokok penjualan. Metode LIFO diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai metode masuk terakhir, keluar pertama (MTKP).
Metode rata-rata
Metode rata-rata didasarkan pada anggapan bahwa barang tersedia untuk dijual adalah homogin. Pada metode ini, pengalokasian harga perolehan barang yang tesedia untuk dijual dilakukan atas dasar harga perolehan rata-rata tertimbang.
·         PEMILIHAN METODE HARGA PEROLEHAN
Pada umumnya alasan yang mendasari pemilihan suatu metode meliputi 3 faktor berikut:
1.      Pengaruh terhadap neraca
2.      Pengaruh terhadap laporan rugi-laba
3.      Pengaruh pajak
Pengaruh terhadap neraca
        Keuntungan pemakaian metode FIFO akan terasa pada masa inflasi, karena pemakaian FIFO pada masa itu akan menghasilkan nilai persediaan yang lebih mencerminkan harga yang berlaku pada tanggal neraca. Sebaliknya jika metode LIFO digunakan pada masa inflasi, harga perolehan persediaan pada tanggal neraca akan didasarkan pada harga perolehan barang yang dibeli lebih awal, atau bahkan harga perolehan barang yang berasal dari periode sebelumnya, mengakibatkan harga perolehan persediaan barang tidak mencerminkan keadaan pada tanggal neraca, dan aktiva lancar serta total aktiva akan di laporkan lebih rendah dari harga yang berlaku pada tanggal neraca.
Pengaruh terhadap laporan laba-rugi
        Persediaan setiap rupiah dalam persediaan akhir akan mengakibatkan perbedaan yang sama jumlahnya dalam laba bersih sebelum pajak.
Pengaruh pajak
        Meskipun jumlah rupiah persediaan dan laba bersih selama masa inflasi pada metode FIFO lebih besar dibandingkan dengan LIFO, namun dewasa ini banyak perusahaan yang berpindah ke metode LIFO. Hal ini disebabkan karena penghitungan laba bersih dengan menggunakan metode LIFO akan menghasilkan pajak penghasilan yang lebih rendah (karena labanya lebih kecil) bila dibangingkan dengan metode FIFO ataupun metode rata-rata.
·         SISTEM PERSEDIAAN PERPETUAL
Ciri-ciri terpenting dalam sistem tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Pembelian barang dagangan dicatat dengan mendebet rekening persediaan, bukan rekening pembelian.
2.      Harga pokok penjualan dihitung untuk tiap transaksi penjualan, dan dicatat dengan mendebet rekening harga pokok penjualan, dan mengkredit rekening persediaan.
3.      Persediaan merupakan rekening kontrol dan dilengkapi dengan buku pembantu persediaan yang berisi catatan untuk tiap jenis persediaan. Buku pembantu persediaan menunjukan kuantitas dan harga perolehan untuk setiap jenis barang yang ada dalam persediaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar